Cerita di Balik 24 Siswa yang Belajar Mencipta dari Bacaan Bersama RELIMA Perpusnas RI di Bandar Lampung
Transsewu.com |BANDAR LAMPUNG — Membaca sebuah cerita adalah satu hal. Mengubah apa yang dibaca menjadi gagasan baru adalah perkara lain.
Di titik itulah 24 siswa kelas IX SMP Global Madani Bandar Lampung mulai belajar pada Selasa (1/9/2026). Mereka tidak sekadar diminta membaca buku kemudian menghasilkan tulisan, tetapi diajak menelusuri apa yang terjadi setelah sebuah cerita selesai dibaca: memahami, membicarakan, mempertanyakan, merefleksikan, hingga menemukan kemungkinan cerita baru.
Proses tersebut berlangsung melalui program Menulis Cerita Berbasis Bahan Bacaan yang digagas Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpustakaan Nasional RI Lokus Kota Bandar Lampung melalui inovasi KLINIK ABI (Kelas Literasi Interaktif, Nurani, Inner Growth dan Kebahagiaan: Aku, Buku, & Imajinasi).
Program itu dirancang dalam enam kali pertemuan. Target akhirnya bukan sekadar pengalaman mengikuti kelas, melainkan lahirnya karya 24 siswa yang ditargetkan diterbitkan menjadi buku antologi dalam format cetak dan digital.
Di balik kegiatan tersebut terdapat satu persoalan yang lebih besar: bagaimana membuat aktivitas membaca memiliki perjalanan lanjutan sehingga buku tidak berhenti sebagai bahan bacaan, dan menulis tidak berhenti sebagai tugas sekolah.
Dari Membaca ke Mencipta
Dalam banyak aktivitas literasi, membaca dan menulis kerap ditempatkan sebagai dua kegiatan yang berdampingan. Siswa membaca buku, kemudian diminta menuliskan sesuatu sebagai hasilnya.
Pendekatan yang dibawa RELIMA mencoba memperpanjang proses tersebut.
Siswa terlebih dahulu diajak membicarakan buku yang dibaca. Mereka dapat menceritakan kembali isi cerita, menemukan bagian yang menarik, memberikan apresiasi maupun kritik, serta menghubungkan cerita dengan pengalaman dan lingkungan di sekitar mereka.
Dari sana, mereka diarahkan menemukan kemungkinan gagasan baru.
Salah satu pertanyaan yang digunakan dalam proses tersebut sederhana, tetapi membuka ruang imajinasi:
“Bagaimana jika cerita itu terjadi dalam kehidupanmu sendiri?”
Pertanyaan tersebut mengubah posisi siswa dari pembaca menjadi pencipta.
Cerita dalam buku tidak harus disalin atau diceritakan kembali. Sebaliknya, bacaan menjadi pemantik untuk melahirkan pengalaman, sudut pandang, konflik, tokoh, atau cerita baru yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.
RELIMA Perpustakaan Nasional RI Lokus Kota Bandar Lampung, Yoga Pratama, mengatakan pendekatan tersebut digunakan agar aktivitas membaca tidak berhenti pada pemahaman isi buku.
“Literasi sering berhenti di membaca dan menulis. Padahal proses terpentingnya adalah memahami, berdiskusi, merefleksikan, membayangkan, lalu menciptakan cerita,” kata Yoga.
Bahan bacaan yang digunakan pun tidak dibatasi pada satu jenis sumber.
Siswa dapat memanfaatkan novel dan komik dari koleksi pribadi, buku cerita anak dari program Bahan Bacaan Bermutu hibah Perpustakaan Nasional RI, maupun buku digital yang tersedia secara gratis.
Dengan pilihan tersebut, siswa memiliki kesempatan berangkat dari bahan bacaan yang dekat dengan minat mereka sebelum mengembangkan gagasan menjadi karya.
Buku sebagai Pemantik, Bukan Sekadar Sumber Tugas
Cara kerja tersebut menjadi penting karena pengalaman membaca setiap siswa tidak selalu sama.
Satu buku dapat menghadirkan kesan berbeda bagi pembacanya. Bagian yang dianggap menarik oleh seorang siswa belum tentu dianggap penting oleh siswa lainnya. Begitu pula gagasan yang muncul setelah membaca.
Karena itu, proses dalam program ini tidak langsung diarahkan pada penulisan.
Siswa diberi ruang untuk berbicara terlebih dahulu.
Apa yang mereka baca? Bagian mana yang menarik? Mengapa bagian tersebut menarik? Apakah ada hal yang tidak mereka sukai? Bagaimana jika tokohnya berada di lingkungan mereka? Apa yang akan terjadi jika jalan ceritanya berbeda?
Rangkaian pertanyaan tersebut menjadi cara untuk menggeser kegiatan membaca dari aktivitas menerima informasi menjadi aktivitas berpikir.
Pada tahap berikutnya, pengalaman berpikir itu menjadi modal untuk menulis.
Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak harus memiliki cerita yang sama dengan buku yang dibaca. Yang dibawa dari bacaan adalah inspirasi, cara melihat persoalan, pemahaman terhadap tokoh dan konflik, serta keberanian untuk mengembangkan imajinasi.
Karya siswa nantinya ditargetkan diterbitkan menjadi buku antologi melalui dukungan Penerbit Pusaka Media, salah satu anggota IKAPI Lampung.
Format cetak dan digital dipilih agar karya tersebut tidak hanya selesai sebagai dokumen pembelajaran, tetapi memiliki kesempatan untuk menjadi bacaan yang dapat diakses orang lain.
Bukan Datang ke Sekolah yang Kosong
Ada konteks lain yang membuat kolaborasi ini menarik.
SMP Global Madani bukan sekolah yang baru mengenal aktivitas literasi ketika program RELIMA hadir.
Sebelum kolaborasi berlangsung, sekolah telah memiliki berbagai kegiatan membaca dan menulis. Guru dan siswa juga telah terlibat dalam penerbitan buku antologi.
Karena itu, kehadiran KLINIK ABI tidak dimaksudkan untuk menggantikan apa yang telah dilakukan sekolah.
Program tersebut justru masuk ke dalam ekosistem literasi yang telah tumbuh dan mencoba menambahkan pendekatan lain.
Kepala SMP Global Madani, Umi Fathul Anwariyah, mengatakan ketertarikan sekolah terhadap pendekatan tersebut muncul ketika Yoga memperkenalkan KLINIK ABI dalam agenda advokasi.
“Begitu Kak Yoga menjelaskan KLINIK ABI, kami langsung berpikir, wah, ini seru. Apalagi program literasi di SMP Global Madani sebenarnya sudah berjalan cukup lama, termasuk penerbitan buku antologi guru dan siswa,” ujarnya.
Bagi Fathul, keberadaan metode baru tidak harus berarti meniadakan metode lama.
Justru, variasi pendekatan diperlukan agar kegiatan literasi dan pembelajaran terus berkembang serta tidak berjalan secara monoton.
Pertimbangan itu pula yang membuat sekolah meminta agar pendekatan KLINIK ABI terlebih dahulu diperkenalkan kepada guru sebelum diterapkan kepada siswa.
Guru Dilibatkan Lebih Dahulu
Permintaan tersebut kemudian diwujudkan melalui kegiatan pada 15 Agustus 2026 yang diikuti sekitar 30 guru SMP Global Madani.
Dalam forum tersebut, guru diajak melihat kembali aktivitas membaca, berdiskusi, menulis, dan berefleksi yang selama ini sudah menjadi bagian dari pembelajaran.
Persoalannya bukan apakah aktivitas tersebut sudah dilakukan, melainkan bagaimana aktivitas itu dapat dikembangkan menjadi pengalaman belajar yang lebih bermakna sekaligus menghasilkan karya.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah pemanfaatan QRCBN pada buku karya siswa.
Melalui identitas publikasi tersebut, karya yang lahir dari proses pembelajaran dapat terdokumentasi dan memiliki bentuk publikasi yang lebih jelas.
Bagi sekolah, pengalaman itu diharapkan tidak berhenti pada program yang dilaksanakan bersama RELIMA.
Fathul justru melihat nilai pentingnya pada kemungkinan metode tersebut digunakan kembali oleh guru dalam pembelajaran masing-masin
“Insya Allah bermanfaat dan bisa direplikasi para guru dalam pembelajaran di kelas. Kami berharap bukan hanya mendapatkan pengalaman dari satu kegiatan, tetapi guru bisa mengambil metode yang sesuai dan mengembangkannya dalam pembelajaran masing-masing,” katanya.
Harapan lainnya berkaitan dengan posisi siswa sebagai pembuat karya.
Menurut Fathul, pengalaman literasi akan memiliki makna berbeda ketika siswa menyadari bahwa tulisannya bukan hanya dikumpulkan kepada guru, tetapi memiliki kemungkinan dibaca oleh orang lain.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya bangga karena selesai mengikuti kelas, tetapi juga merasakan bahwa tulisan mereka layak dibaca orang lain,” ujarnya.
Menguatkan yang Sudah Ada
Bagi Yoga, pengalaman di SMP Global Madani justru menunjukkan bahwa dampak sebuah program literasi tidak selalu harus ditandai dengan lahirnya kegiatan baru.
Kadang, dampak muncul ketika sebuah program mampu masuk ke lingkungan yang sudah memiliki praktik baik, lalu memperkuatnya melalui perspektif dan metode berbeda.
“Kadang, keberhasilan program justru ketika kita bisa masuk ke ekosistem yang sudah baik, kemudian ikut menguatkan, memberikan perspektif baru, dan membuat orang-orang di dalamnya menemukan cara lain untuk melakukan hal yang selama ini sudah mereka kerjakan,” kata Yoga.
Dalam kerangka itu, KLINIK ABI tidak ditempatkan sebagai jawaban tunggal atas persoalan literasi di sekolah.
Ia menjadi salah satu cara untuk membuka ruang baru.
Ruang bagi siswa untuk tidak hanya membaca, tetapi berbicara tentang bacaannya. Tidak hanya berbicara, tetapi memikirkan kembali apa yang mereka temukan. Tidak hanya berpikir, tetapi mengubahnya menjadi gagasan. Dan tidak berhenti pada gagasan, tetapi berani menciptakan karya.
Program Menulis Cerita Berbasis Bahan Bacaan menjadi salah satu bentuk penerapan pendekatan tersebut.
Selama enam pertemuan, proses membaca akan menjadi titik awal perjalanan kreatif 24 siswa kelas IX SMP Global Madani.
Dari halaman buku, mereka diharapkan menemukan cerita. Dari cerita, mereka menemukan pertanyaan. Dari pertanyaan, lahir gagasan. Dan dari gagasan itulah sebuah karya mulai ditulis.
Kolaborasi tersebut juga mendapat dukungan IKAPI Lampung dan sejumlah media pemberitaan di Kota Bandar Lampung.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilannya bukan hanya apakah sebuah buku antologi berhasil diterbitkan.
Yang lebih penting adalah apakah setelah program selesai, siswa memiliki pengalaman bahwa membaca dapat membawa mereka lebih jauh: menjadi bahan untuk berpikir, berdiskusi, membayangkan kemungkinan, dan menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada.
Sebab, ketika membaca tidak berhenti pada halaman terakhir sebuah buku, di situlah literasi mulai menemukan perjalanan berikutnya.(rls/fhe)
