Di Usia ke-344 Tahun, Bandar Lampung Dihadapkan Tantangan Banjir dan Krisis Lingkungan, Pemkot Janjikan Perubahan

Screenshot_20260618_064310~2

Transsewu.com |BANDAR LAMPUNG – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-344 Kota Bandar Lampung tidak hanya menjadi momentum seremonial untuk mengenang perjalanan sejarah kota, tetapi juga menjadi refleksi atas berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat, terutama banjir dan krisis lingkungan yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi.

Dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Bandar Lampung yang digelar Rabu (17/6/2026), Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat pembangunan berkelanjutan dengan menjadikan pengendalian banjir serta penanganan persoalan lingkungan hidup sebagai prioritas utama pembangunan kota ke depan.

Di hadapan unsur Forkopimda, anggota DPRD, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen pemerintahan, Eva mengakui bahwa tantangan pembangunan perkotaan saat ini semakin kompleks. Pertumbuhan penduduk, perkembangan teknologi, kebutuhan lapangan kerja, hingga ancaman perubahan iklim menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama.

Menurutnya, Bandar Lampung tidak hanya dituntut mampu tumbuh secara ekonomi, tetapi juga harus mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang semakin nyata dampaknya dirasakan masyarakat.

“Kita menyadari bahwa tantangan pembangunan perkotaan ke depan akan semakin kompleks. Mulai dari transformasi ekonomi, perkembangan teknologi digital, perubahan iklim, peningkatan kualitas sumber daya manusia, ketahanan pangan, penyediaan lapangan kerja hingga peningkatan kualitas lingkungan perkotaan,” ujar Eva dalam sambutannya.

Persoalan banjir yang berulang kali terjadi di sejumlah wilayah Bandar Lampung menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian khusus. Dalam beberapa tahun terakhir, hujan dengan intensitas tinggi kerap mengakibatkan genangan hingga banjir di sejumlah titik, bahkan menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Untuk itu, Pemerintah Kota Bandar Lampung berkomitmen memperkuat pembangunan infrastruktur dasar yang dinilai menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana perkotaan. Program yang disiapkan meliputi peningkatan kualitas jalan, pembangunan dan normalisasi drainase, pengendalian banjir, hingga penyediaan ruang publik yang lebih representatif bagi masyarakat.

Tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, Pemkot juga menempatkan isu lingkungan sebagai agenda strategis. Pembangunan kota hijau dan berketahanan iklim menjadi salah satu arah kebijakan yang akan terus diperkuat dalam beberapa tahun mendatang.

Langkah tersebut diwujudkan melalui peningkatan ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah yang lebih modern dan efektif, konservasi sumber daya alam, pengurangan emisi karbon, serta penguatan program mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Eva menilai, pembangunan yang berkelanjutan tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diwujudkan agar Bandar Lampung mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Momentum HUT ke-344 ini, lanjut Eva, harus menjadi titik penguatan komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dalam mempercepat pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.

Sebagai ibu kota Provinsi Lampung sekaligus gerbang utama Pulau Sumatera, Bandar Lampung memiliki posisi strategis yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Kota ini diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, perdagangan, jasa, pendidikan, pariwisata, dan investasi yang semakin kompetitif di tingkat regional maupun nasional.

Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, Eva optimistis Bandar Lampung dapat berkembang menjadi kota yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing tanpa mengabaikan aspek lingkungan hidup.

“Bandar Lampung harus menjadi kota yang nyaman dihuni, produktif untuk berusaha, tangguh menghadapi tantangan, dan sejahtera bagi seluruh warganya,” tegasnya.

Di usia yang telah memasuki 344 tahun, harapan masyarakat tentu tidak hanya sebatas janji pembangunan. Warga menantikan langkah nyata yang mampu menjawab persoalan banjir, pengelolaan sampah, kerusakan lingkungan, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya proyek yang dibangun, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Bandar Lampung.(fhe)

 

 

About The Author