Dedi Yuginta, SE., M.Si Gelar Pembinaan Pancasila, Warga Empat Kecamatan Dalami Wawasan Kebangsaan

file_00000000b0e882079d53df3d6711c50c

Transsewu.com |BANDAR LAMPUNG – Anggota DPRD Kota Bandar Lampung, Dedi Yuginta, SE., M.Si., menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kota Bandar Lampung, Minggu (11/10/2026). Kegiatan ini diikuti masyarakat dari empat kecamatan sebagai upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan, persatuan, dan toleransi di tengah keberagaman.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Rahmat dan Topik Hidayatullah, dengan moderator Zulkarnain. Peserta yang hadir berasal dari sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Tanjungkarang Barat (TKB) dan Enggal.

Dalam sambutannya, Dedi Yuginta menegaskan bahwa pembinaan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan merupakan bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap dasar negara dan identitas bangsa Indonesia.

Ia mengajak seluruh peserta mengikuti pemaparan narasumber dengan baik agar materi yang disampaikan tidak sekadar menjadi pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Dedi, Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus terus dijaga sebagai landasan untuk membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap masyarakat semakin memahami Pancasila dan wawasan kebangsaan, kemudian menerapkannya di lingkungan keluarga maupun masyarakat,” pesannya.

Dedi juga menyinggung peran DPRD dalam menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Berbagai masukan dari warga, menurutnya, menjadi bahan penting dalam pembahasan program dan anggaran pembangunan daerah agar kebijakan yang dihasilkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Rahmat Tekankan Gotong Royong dan Ketahanan Pangan

Dalam pemaparan materi, narasumber Rahmat menjelaskan bahwa Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas semangat persatuan di tengah perbedaan. Oleh sebab itu, masyarakat perlu menjaga toleransi dan tidak menjadikan perbedaan keyakinan maupun latar belakang sebagai alasan untuk terpecah belah.

Rahmat juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali budaya gotong royong yang dinilai mulai menghadapi tantangan di tengah perkembangan zaman dan penggunaan teknologi digital.

Menurutnya, semangat gotong royong dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap tetangga, membantu warga yang membutuhkan, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan masing-masing.

Selain itu, ia mengajak masyarakat memperkuat ketahanan pangan keluarga dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam cabai, sayuran, dan tanaman pangan lainnya.

Upaya sederhana tersebut diharapkan dapat mendorong kemandirian keluarga sekaligus memperkuat kepedulian masyarakat terhadap kebutuhan pangan.

Topik Hidayatullah Paparkan Empat Pilar Kebangsaan

Sementara itu, narasumber Topik Hidayatullah menyampaikan materi mengenai wawasan kebangsaan dan pentingnya memahami Empat Pilar Kebangsaan sebagai landasan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Empat pilar yang dibahas meliputi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa.

Ia menjelaskan bahwa Pancasila harus menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak, sedangkan UUD 1945 menjadi landasan konstitusional dalam kehidupan bernegara.

Sementara itu, NKRI merupakan bentuk negara yang harus dijaga keutuhannya. Adapun Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan masyarakat untuk menghormati perbedaan serta memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.

Topik juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas bangsa di tengah perkembangan teknologi dan pengaruh budaya luar. Masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan mampu menggunakan media sosial secara bijak dan tidak mudah terpengaruh informasi yang dapat memicu konflik maupun perpecahan.

Menurutnya, wawasan kebangsaan tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, seperti menghormati sesama, menaati aturan, menjaga kerukunan, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Perkuat Persatuan dari Lingkungan Masyarakat

Melalui kegiatan pembinaan tersebut, Dedi Yuginta berharap masyarakat semakin memahami pentingnya mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Partisipasi warga dari empat kecamatan diharapkan turut memperluas pemahaman mengenai wawasan kebangsaan, memperkuat semangat gotong royong, serta menjaga persatuan di tengah dinamika kehidupan sosial.

Dengan pemahaman yang kuat terhadap Pancasila dan Empat Pilar Kebangsaan, masyarakat diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya menjaga kerukunan, memperkokoh persatuan, dan meneruskan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi berikutnya.(fhe)

Transsewu.com — Handal, Tangguh, Value.