Cegah Kekerasan di Lingkungan Sekolah, KKN STIT Pringsewu Ajak Siswa MANU Berani Bertindak
Foto : DPL KKN STIT Pringsewu, Ibu Ruly Nadian Sari, S.Pd., M.Pd. dan Ibu Eri Purwanti, M.Pd., bersama pihak sekolah.
Transsewu.com|Pringsewu, Tulung Agung – Pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan membutuhkan kepedulian bersama, termasuk dari kalangan pelajar. Pesan tersebut disampaikan dalam seminar yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Pringsewu Tahun 2026 di MANU, Tulung Agung, Kamis (13/8/2026).
Seminar bertajuk “Mewujudkan Sekolah Ramah dengan Perlindungan dan Pencegahan Kekerasan Anak dan Perempuan” itu diikuti sekitar 60 siswa kelas XII. Kepala sekolah, dewan guru, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN STIT Pringsewu turut menghadiri kegiatan tersebut.
Dua DPL, Ruly Nadian Sari, S.Pd., M.Pd. dan Eri Purwanti, M.Pd., hadir memberikan pendampingan sekaligus dukungan terhadap program edukasi yang dilaksanakan mahasiswa KKN.
Sementara itu, materi disampaikan Ulfah Umirohmi, M.Pd., yang merupakan anggota Satgas Anti Kekerasan Perempuan dan Anak STIT Pringsewu.

Dalam pemaparannya, Ulfah menjelaskan bahwa kekerasan dapat muncul dalam berbagai bentuk dan tidak selalu ditandai dengan tindakan fisik. Karena itu, pelajar perlu memiliki kemampuan mengenali perilaku yang berpotensi merugikan atau menyakiti orang lain.
Para siswa juga diajak memahami dampak kekerasan terhadap korban, baik dalam kehidupan sosial maupun proses pendidikan. Sikap saling menghargai, menjaga batasan dalam berinteraksi dan membangun komunikasi yang sehat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman.
Suasana seminar berlangsung cukup interaktif. Siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dan bertanya mengenai persoalan kekerasan yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, peserta didorong untuk tidak takut menyampaikan apabila mengalami atau mengetahui adanya tindakan kekerasan. Pelaporan dinilai menjadi langkah penting agar persoalan dapat segera ditangani dan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab antara siswa dan narasumber. Antusiasme terlihat dari sejumlah pertanyaan yang disampaikan peserta terkait upaya mencegah kekerasan di lingkungan sekolah maupun pergaulan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN STIT Pringsewu berharap para siswa dapat menjadi bagian dari terciptanya budaya sekolah yang saling menghormati dan melindungi.
Seminar tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata keterlibatan mahasiswa dalam memberikan edukasi kepada generasi muda, khususnya mengenai pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, ramah anak dan bebas dari kekerasan.(*)
Editor : Fhee|transsewu.com
