DISEMINASI LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI LAMPUNG SEMESTER I 2026: PENGUATAN MODEL BISNIS KOMODITAS STRATEGIS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN
Transsewu.com | Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung Semester I 2026 pada Selasa, 28 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat komunikasi kebijakan serta meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan terhadap kondisi dan prospek ekonomi daerah.
Kegiatan diseminasi ini dirangkaikan dengan diskusi panel yang menghadirkan narasumber dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha. Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa perekonomian Provinsi Lampung tetap menunjukkan kinerja yang solid, dengan pertumbuhan pada Triwulan IV 2025 sebesar 5,54% (year-on-year/yoy) dan secara keseluruhan tahun 2025 mencapai 5,28% (cumulative to cumulative/ctc). Kinerja tersebut terutama ditopang oleh sektor pertanian yang tetap kuat sebagai tulang punggung perekonomian Lampung.
Mengusung tema “Penguatan Model Bisnis Komoditas Strategis dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Provinsi Lampung”, kegiatan ini bertujuan mendorong transformasi ekonomi Lampung melalui penguatan sektor unggulan, khususnya pertanian, dengan pendekatan hilirisasi serta integrasi dari hulu hingga hilir.
Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung menyampaikan bahwa tingginya kinerja sektor pertanian pada periode sebelumnya menjadi tantangan tersendiri ke depan, mengingat basis pertumbuhan yang sudah tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya ekstra untuk mempertahankan kinerja tersebut, terutama di tengah ketidakpastian global pada tahun 2026.
Ke depan, perekonomian Lampung pada Triwulan I 2026 diprakirakan tetap kuat, ditopang oleh sektor pertanian, industri pengolahan, serta perdagangan. Selain itu, penguatan permintaan domestik pada periode long festive season (Tahun Baru, Imlek, Ramadan, dan Idulfitri 2026) turut menjadi pendorong. Secara keseluruhan, ekonomi Lampung tahun 2026 diprakirakan tumbuh solid dengan inflasi yang tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional.
Sejalan dengan hal tersebut, penguatan sektor pertanian perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi komoditas. Upaya ini didukung oleh penguatan ekosistem hulu-hilir, mulai dari perbaikan budidaya hingga pemasaran melalui kolaborasi berbagai pihak.
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung dalam kesempatan yang sama menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam mendorong program strategis, salah satunya melalui program unggulan Desaku Maju. Program ini mengembangkan ekosistem ekonomi desa secara terintegrasi, dengan inovasi sebagai kunci di tengah keterbatasan fiskal, guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari sisi kebijakan nasional, Kementerian Pertanian menekankan pentingnya penguatan produksi dan hilirisasi komoditas hortikultura melalui peningkatan produktivitas, modernisasi pertanian, penguatan kelembagaan petani, serta integrasi rantai pasok hulu-hilir guna meningkatkan daya saing dan nilai tambah.
Sementara itu, PT Food Station Tjipinang Jaya menyoroti pentingnya penguatan rantai pasok pangan yang terintegrasi melalui pengembangan sistem informasi komoditas, seperti food hub, untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan menjaga keseimbangan pasokan. Dukungan dari sisi hulu juga dinilai penting untuk mendorong peningkatan produktivitas.
Di sisi lain, EPTILU sebagai agregator menekankan pentingnya pengembangan model bisnis pertanian terintegrasi (closed loop) yang menghubungkan produksi hingga pemasaran melalui pendampingan dan monitoring. Model ini dinilai mampu menjaga kualitas, memastikan kepastian pasar, serta menjaga stabilitas harga, sekaligus memperkuat peran strategis Lampung sebagai simpul perdagangan antara Sumatera dan Jawa.
Diskusi juga mengangkat sejumlah isu strategis, antara lain masih tingginya aliran keluar komoditas dalam bentuk bahan mentah seperti gabah, keterbatasan kualitas lahan, serta belum optimalnya nilai tambah sektor pertanian. Selain itu, pembiayaan dinilai belum cukup untuk mendorong pengembangan usaha secara optimal, sehingga diperlukan pendekatan pemberdayaan yang lebih komprehensif melalui penguatan akses pasar dan kapasitas usaha.
Perbankan menyatakan kesiapan untuk mendukung melalui peningkatan konektivitas antara petani dan pelaku pasar, dengan tetap menekankan pentingnya penguatan kelembagaan serta model bisnis yang berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, forum ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain:
Penguatan kelembagaan petani
Pengembangan sistem informasi komoditas yang terintegrasi
Percepatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah
Penguatan sinergi antar pemangku kepentingan
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama untuk mendorong transformasi ekonomi Lampung yang lebih berdaya saing serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
Editor : fhee
