Kanwil Kemenag Lampung Gelar Hari Santri 2026, Gubernur Mirza Ajak 1.800 Santri Wujudkan Indonesia Emas

file_00000000226c8207aecf8697f6d1a478

transsewu.com |LAMPUNG SELATAN** – Sebanyak 1.800 santri mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Provinsi Lampung di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis (22/10/2026). Dalam momentum tersebut, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengajak para santri mengambil peran lebih besar dalam pembangunan bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta penguatan akhlak mulia.

Peringatan yang mengusung tema **“Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”** ini menjadi momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus memperkuat kesiapan generasi pesantren menghadapi tantangan zaman.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Rahmat membacakan amanat Menteri Agama Republik Indonesia yang menekankan bahwa semangat perjuangan para pendahulu harus diteruskan melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

“Santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan juga bagian penting dari perjalanan bangsa. Karena itu, mengenang jasa para pendahulu tidak cukup hanya dengan upacara dan seremonial. Kita harus melanjutkan perjuangan mereka melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” ujar Rahmat.

## Santri Harus Menguasai Ilmu dan Teknologi

Rahmat menegaskan, tantangan santri saat ini berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Jika dahulu para santri berjuang mempertahankan kedaulatan negara, kini perjuangan tersebut harus dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

“Jika dahulu para santri menguatkan negeri dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini santri harus menguatkan negeri dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan tentu saja akhlak mulia. Tantangan zaman memang berubah, tetapi semangat pengabdian kepada negeri tercinta ini, bagi seorang santri, tidak boleh padam,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar para santri tidak membatasi cita-cita hanya pada bidang keagamaan. Pendidikan pesantren, menurutnya, dapat menjadi bekal untuk berkiprah dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, ilmu pengetahuan, kewirausahaan hingga kepemimpinan.

“Santri tidak boleh merasa kecil dan tidak boleh membatasi diri. Santri bisa menjadi apa saja, mulai dari ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa, selama terus belajar, bersungguh-sungguh, dan mengabdikan ilmunya bagi kemajuan Indonesia,” ujarnya.

Untuk menghadapi perkembangan zaman, para santri didorong menguasai ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi. Tradisi pesantren harus tetap dijaga, tetapi keterbukaan terhadap perubahan juga diperlukan agar santri mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

“Oleh karena itu, kuasailah ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi. Peliharalah tradisi pesantren, tetapi jangan pernah takut terhadap perubahan. Jadilah generasi yang teguh memegang nilai-nilai keislaman, terbuka terhadap kemajuan, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat,” tutur Rahmat.

Ia turut menekankan pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu. Keberhasilan seorang santri, katanya, tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari manfaat ilmu yang diberikan kepada masyarakat.

“Sebagaimana pesan yang sering kita dengar di pesantren, *man jadda wajada*, barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Teruslah berusaha, berinovasi, dan berkarya. Jadilah santri yang membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” katanya.

## Pesantren Berperan dalam Kerukunan dan Pemberdayaan Masyarakat

Selain menyoroti pendidikan dan penguasaan teknologi, Rahmat mengajak para santri menjaga kerukunan, memperkuat persatuan, serta meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Menurutnya, nilai-nilai agama harus menjadi landasan untuk membangun kehidupan yang damai, menghormati perbedaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama maupun alam.

“Jadikan nilai-nilai agama sebagai sumber inspirasi untuk merawat bumi, menebarkan kedamaian, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita, karena Indonesia yang kuat hanya dapat dibangun melalui kebersamaan,” ujarnya.

Rahmat juga menyoroti tiga fungsi penting pesantren, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiganya dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui pendidikan, pesantren melahirkan generasi berilmu dan berakhlak. Melalui dakwah, pesantren menyebarkan nilai-nilai Islam yang *rahmatan lil ‘alamin* sekaligus memperkuat kerukunan dan persatuan bangsa. Sementara melalui pemberdayaan masyarakat, pesantren diharapkan mampu mendorong kemandirian dan memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial.

Rahmat menegaskan, Hari Santri bukan hanya milik kalangan pesantren, melainkan juga momentum bagi seluruh masyarakat untuk menghargai perjuangan para pendahulu, menjaga persatuan, dan memperkuat kecintaan terhadap tanah air.

“Melalui kesempatan yang baik ini, saya ingin menegaskan bahwa Hari Santri adalah milik seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan, menjunjung persatuan, dan mencintai tanah airnya. Sebab, mencintai tanah air adalah bagian dari iman, *hubbul wathan minal iman*,” ungkapnya.

Menutup amanatnya, ia mengajak para santri untuk terus menjaga tradisi, mengembangkan inovasi, memperkuat persaudaraan, serta mengabdikan ilmu dan kemampuan bagi kemajuan bangsa.

“Teruslah menjaga tradisi, mengembangkan inovasi, memperkuat persaudaraan, dan mengabdikan diri untuk negeri. Jadilah santri yang menguatkan negeri menuju Indonesia Emas,” pungkasnya.

## Kepala Kanwil Kemenag Bacakan Resolusi Jihad

Dalam rangkaian upacara tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, membacakan Resolusi Jihad, naskah bersejarah yang lahir dari Rapat Besar Wakil-Wakil Daerah Nahdlatul Ulama se-Jawa dan Madura di Surabaya pada 21–22 Oktober 1945.

Resolusi Jihad memuat seruan para ulama untuk mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kedaulatan Republik Indonesia. Naskah tersebut menegaskan tekad umat Islam untuk mempertahankan agama sekaligus negara yang telah merdeka.

“Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat umat Islam dan alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan agama, kedaulatan Negara Republik Indonesia Merdeka,” demikian bunyi naskah yang dibacakan Zulkarnain.

Resolusi itu juga memuat permohonan kepada pemerintah agar mengambil sikap dan tindakan nyata terhadap berbagai ancaman yang dapat membahayakan kemerdekaan, agama, dan negara Indonesia.

Selain itu, para ulama menyerukan kelanjutan perjuangan bersifat *sabilillah* demi tegaknya Republik Indonesia yang merdeka dan agama Islam.

Pembacaan Resolusi Jihad menjadi pengingat atas peran ulama dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Semangat tersebut diharapkan terus hidup melalui pendidikan, pengabdian, dan upaya menjaga persatuan bangsa.

## Serahkan Izin Pesantren, 10.000 Mushaf Al-Qur’an, dan Bibit Tanaman

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tingkat Provinsi Lampung juga diisi dengan penyerahan izin operasional pondok pesantren, 10.000 mushaf Al-Qur’an, serta bibit tanaman.

Penyerahan izin operasional menjadi bagian dari dukungan terhadap penyelenggaraan pendidikan pesantren. Sementara itu, bantuan mushaf Al-Qur’an diharapkan menunjang kegiatan pembelajaran dan penguatan kehidupan keagamaan. Adapun bibit tanaman menjadi simbol sekaligus bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Islam An Nur Lampung Andi Warisno, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Lampung, jajaran Kanwil Kementerian Agama dan Pemerintah Provinsi Lampung, Kepala BPJPH Provinsi Lampung, Ketua Baznas Lampung, Ketua MUI Provinsi Lampung, serta tamu undangan lainnya.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2026, semangat perjuangan ulama dan santri diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk memperkuat ilmu, menjaga akhlak, merawat persatuan, serta mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia Emas.(rls/fhe)

**Sumber: Humas Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung**