Seminar Nasional Perlebahan 2026 di Unila, Kaji Potensi Lebah sebagai Penyerbuk Pada Kelapa Sawit Berkelanjutan.

IMG-20260618-WA0305

Transsewu.com |BANDAR LAMPUNG – Potensi lebah sebagai penyerbuk alternatif pada perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu fokus utama dalam Seminar Nasional Perlebahan 2026 yang digelar di Universitas Lampung (Unila). Kegiatan ini mengangkat tema “Lebah untuk Sawit Berkelanjutan: Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit.”

Ketua Pelaksana Seminar Nasional Perlebahan 2026, Puji Lestari, menjelaskan bahwa selama ini penyerbukan kelapa sawit sangat bergantung pada kumbang penyerbuk Elaeidobius kamerunicus. Karena itu, penelitian mengenai peluang lebah sebagai penyerbuk tambahan dinilai penting untuk mendukung produktivitas sawit sekaligus menjaga keanekaragaman hayati.

“Kami ingin melihat potensi lebah sebagai penyerbuk kelapa sawit. Selama ini penyerbuk sawit hanya mengandalkan Elaeidobius. Jika lebah terbukti berpotensi menjadi penyerbuk, ini akan menjadi hal yang luar biasa karena selain meningkatkan produktivitas sawit, lebah juga menghasilkan madu yang dapat menambah pendapatan peternak,” ujar Puji.

Menurutnya, keberadaan lebah memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh sebab itu, upaya konservasi lingkungan menjadi langkah utama untuk mencegah penurunan populasi lebah yang terjadi di berbagai wilayah.

“Lebah membutuhkan sumber pakan yang cukup. Jika tidak ada pakan, mereka akan berpindah. Karena itu agroekosistem harus dijaga dan sumber pakan lebah harus tersedia agar populasinya tetap stabil,” katanya.

Puji menyarankan penanaman berbagai jenis tanaman berbunga sepanjang tahun sebagai sumber nektar dan serbuk sari bagi lebah. Beberapa di antaranya adalah bunga air mata pengantin, bunga matahari kecil, dan tanaman berbunga lainnya yang mampu menyediakan pakan secara berkelanjutan.

Selain itu, ia juga mengingatkan para petani agar lebih bijak dalam penggunaan pestisida. Menurutnya, waktu aplikasi pestisida harus disesuaikan agar tidak bertepatan dengan aktivitas lebah mencari makan.

“Lebah biasanya aktif mencari pakan pada pagi hingga sore hari. Jadi aplikasi pestisida sebaiknya dilakukan pada waktu yang tidak mengganggu aktivitas lebah. Satu kali aplikasi pestisida yang tidak tepat bisa menyebabkan satu koloni lebah keracunan,” jelasnya.

Seminar nasional tersebut diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan instansi terkait dari seluruh Indonesia. Di antaranya berasal dari IPB University, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), BRIN, BTPN, serta sejumlah institusi lainnya.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari. Hari pertama diisi dengan stadium general, hari kedua seminar paralel dan kunjungan ke Lebah Sejuta, sedangkan hari ketiga peserta diajak mengunjungi Pulau Pahawang untuk mengenal potensi wisata Lampung.

Puji berharap kegiatan ini mampu membuka peluang kolaborasi penelitian yang lebih luas serta menghasilkan inovasi baru dalam pengembangan perlebahan nasional.

“Harapan kami tentu terbukanya jejaring penelitian yang lebih kuat. Jika nantinya penelitian membuktikan lebah berpotensi menjadi penyerbuk kelapa sawit, maka ini akan menjadi alternatif yang sangat baik sekaligus mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia yang sangat kaya akan spesies lebah,” pungkasnya.(fhe)

About The Author